Sugeng Enjang Jakarta ...
Sepagi ini Jakarta kusapa. masih ada basah pucuk-pucuk bambu yang hilang kicau burungnya. dan mentari demikian transparan kilaunya dikaki timur, malas beranjak menaungi hingar kota sejuta mimpi ini. mimpi tentang penghidupan yang terlihat seakan layak dimata ribuan pemimpi.>>> ataukah sebenarya mereka atau aku sendiri telah kehilangan arti dari mimpi itu sendiri, hingga tidurnya berwarna kelam, igaunya genderang persaingan, dan senyumnya kwajiban<<< Kemana lagi menepikan gelisah, jika liku sungai kehilangan pemikat, sempoyongan memuat sampah..kebusukan manusia-manusia plastik yang hatinya telah tergadai..yang kulitnya meleleh dicumbu matahari.
Tiap detik aku menyerapah..tentang angin yang lupa sepoinya..dan tentang malam yang hilang keheningannya. Seperti ini mimpimu..Hah? bagaimana aku merajut kisah ini? dimana benang dan jarumnya terselip dikeharuman rimba-rimba perawan, hutan yang dulu bisa kusapa melalui jendela kamar, yang teduhnya ngawe-awe diteriknya siang. dan kisah ini tak akan mampu usai seperti lakon yang kuharapkan. kisah ini magel, selayak koreng yang kamikakon.
Aku ngungun, menebah-nebah angan..sepagi ini Jakarta kusapa. Dan rintik hujan tiba-tiba menjadi sesuatu yang tak kusuka. dia begitu curah, membanjir di pelataran penuh serapah.
Dan pucuk-pucuk bambupun limbung teramuk badai.
( Pondok Cabe, Macet Kamis Pagi )
Kisah Magel
Label: win's poem
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar